𝑮𝒆𝒎𝒖𝒓𝒖𝒉 𝑹𝒂𝒔𝒂


"Bre"
"Seriously"
"I am flying"
"Bre please hang up your phone"
"I am dying waiting here"
Ada 5 panggilan tak terjawab di gawaiku jam 7 pagi
Kubaca pesannya dengan debar aneh.
Sial apa yang  telah kulakukan sebenarnya.
Aku membangunkan harimau tidur.
Kuambil notebook biruku dan tanganku mulai bergerak cepat membuka laman facebook yang sudah lama kunonaktifkan.
Feelingku tepat.
Ada 15 pesan masuk inboxku, semuanya dari Mas Dino.

"Mas Dino maafin Bre" akhirnya kubalas chatnya.
"What for"
"Jangan bohong lagi"
"Jangan suka bermain dengan perasaan" balasan Mas Dino membuatku ciut.
"Bre, i need to hear your voice"
"Angkat ya, please"
Aku masih sibuk menata debar jantungku ketika panggilannya masuk.

"Bre, sweetheart"
"Bre, kamu nggak bohong kan?, aku tahu kamu tak pandai berbohong." suara berat Mas Dino terdengar cepat dan beruntun.
"Bre, jangan takut, bukan salah kita kalau kita saling suka. Andai kutahu lebih cepat Bre, andsi kau tahu betapa hampir setiap malam aku membayangkamu Bre"
Hening, kukira sinyalnya putus, tapi ada suara napas berat terdengar dari seberang.
"Mas"
"Mas Dino, kok diem?" kusapa  Mas Dino lirih sambil menyusun kata berikutnya
Sial aku tak menemukan kata yang tepat untuk situasiku.
Betapa ingin kuungkap bahwa aku hanya bercanda.
Aku hanya asal bicara.
Aku ingin Mas Dino tertawa dan mengatakan ini hanya prank, dia paham aku tak mungkin suka padanya, pd suami sahabatku sendiri.
Tapi mengapa degup jantungku mengatakan sebaliknya.
Mengapa reaksi Mas Dino seperti ini.
Hatiku membuncah.

"Bre"
"Your turn" suara Mas Dino mengagetkanku.
"Iya Mas, Bre suka Mas Dino, sangat suka, maafkan Bre" aku terbata mengeja kata.
"Bre, Makasih"
"Jangan takut Bre, bukan salah kita kalau kita saling suka"
"Bre, kau membuatku gila"
Suara Mas Dino membuatku melayang. Aku ingin melupakan Mas Alfian dan Mbak Rena meski sejenak, hanya ada Mas Dino.

"let me see your eyes"
"Video call ya, please" suara Mas Dino menyihirku.
"Iya" jawabku lirih.

Mas Dino duduk manis di meja kerjanya memakai kaos merah berkerah. Tinggi Mas Dino 180 cm dengan kulit hitam dan rambut bergelombang.
Mas Dino sibuk membuka laci kerjanya dan mengeluarkan kotak biru. Diambilnya bbrp lembar foto dan menunjukkan kearahku.
Itu foto masa kuliahku dulu. Aku duduk di tepi kampus dengan buku besar dipangku, rambutku tergerai lepas ditiup angin.
Mas Dino dosenku, dosen muda tampan yang sempat mengajar 1/2 tahun sebelum resign dan melanjutkan S2 di Nottingham.
"Aku suka padamu sejak pertama kali kita bertemu"
"Aku tak menyangka takdir akan serumit ini,
 orang yang kusuka ternyata sahabat istriku"

"Mas Dino, Bre juga kaget ketika Mas dan Kak Rena datang ke perumahan ini"
"Tapi Mas Dino dan Kak Rena tampak serasi dan bahagia" ucapku lirih sambil memainkan poni berusaha mengutupi malu.
"iya Bre" jawaban Mas Dino seakan mengambang di udara. Kutepis pikiran burukku dan melempar senyum malu malu.
"Met kerja Mas, udahan ya, Bre juga mau keluar jam 9"ucapku pelan
"Ke Redaksi?, good luck Bre, good luck sweetheart" ucap Mas Dino manis
"Bye" kututup video dengan cepat.
Sial gemuruh didadaku membuat pipiku memerah.
Inikah suka
Benarkah begini rasanya suka.



Comments

Popular posts from this blog

𝐌𝐞𝐧𝐣𝐞𝐦𝐩𝐮𝐭 𝐏𝐫𝐚𝐡𝐚𝐫𝐚

𝐿𝑒𝑙𝑎𝑘𝑖 𝑑𝑎𝑛 𝐻𝑢𝑗𝑎𝑛