𝐿𝑒𝑙𝑎𝑘𝑖 𝑑𝑎𝑛 𝐻𝑢𝑗𝑎𝑛
"Chatku sudah seminggu lebih kau abaikan"
"Apakah kau baik baik saja?"
"Aku cemas"
Kubaca sekilas chat yang beruntun masuk di jendela gawaiku.
Ah mengapa dia tak bisa berhenti mengirimiku pesan.
Aku mencoba menguatkan hatiku dan meletakkan benda putih di tanganku di atas nakas.
Terdengar ketukan pelan di pintu depan.
"Assalamualaikum Tante, maaf ada yang nyari Tante" sapa Nakila, remaja kecil yang tinggal di seberang rumah.
Matahari tak terlihat. Mendung tebal menyelimuti hari sejak siang.
Aku baru selesai mandi dan ingin duduk di beranda menikmati mendung ketika Nakila datang.
"Tuh ada cowok gateng naik motor" jawab Nakila sambil menudingkan jari kearah lelaki itu.
"Met sore Paras" sapa lelaki itu sambil berjalan mendekat kearahku.
"Makasih ya Dek" suara bariton lelaki itu tertuju ke Nay disambut anggukan cepat dari Nakila.
Aku masih memandanginya tajam dan berusaha menghindari uluran tangannya tapi kalah cepat jemariku sudah dalam genggamannya.
Kami duduk berhadapan di kursi putih di berandaku yang penuh bunga.
Gerimis mulai menderai kami masih diam saling pandang.
"Jadi aku sudah terlambat" suara Anggara lirih memecah kebisuan.
"Kau ingkar janji Paras, kenapa kau tega?"
"Aku memikirkanmu pagi dan malam, hujan dan terang, senja dan pagi, apakah kau tak merasakan?" pertanyaaan Anggara tak mampu kujawab.
"Bicaralah, aku menunggu penjelasanmu"
"Meskipun menyakitkan, aku wajib tahu Paras" suara Anggara mulai bergetar.
Kucoba menguatkan diri agar tak menampakkan perasaanku di hadapannya.
Bagaimana aku menjelaskan pada lelaki didepaku ini aku sudah tak punya rasa padanya.
Aku melupakannya sejak hari pertama aku bertemu kakaknya di Bandara.
Aku jatuh cinta pada kakaknya dan aku bahagia meski menyakitinya.
" Maaf takdir tidak berpihak pada kita Angga"
"Maaf kau harus melupakan aku" aku berusaha bersikap lugas.
"Berhenti memikirkanku, kita sudah selesai" jawabku tegas dan berdiri mengusirnya secara halus.
"Kau tega Paras"
"Tidak apa, aku akan mengalah"
"Aku akan pergi tapi aku tak bisa berjanji bisa melupakanmu"
"Aku akan mengenangmu setiap hariku seperti kemarin dan kemarinnya dulu"
"Baik baiklah selalu Paras, Aku akan mencintaimu selalu"
Ucapan Angga menguar disapu hujan deras yang mengiringi langkahnya.
Suara motor menderu kencang sedetik setelah senyum sedihnya mengembang.
Hujan semakin deras.
Aku masih duduk di kursiku dan membayangkan Mas Brama mencumbuku.
Ah Mas Brama membuat dadaku tak berhenti berdegup. Nanti malam dia akan datang setelah istrinya tidur dan kami akan kembali menyatu.
Di luar perumahan, seorang pengendara motor tewas ditabrak mobil yang melaju sama kencangnya. Ada senyum sedih di wajah pengendara motor yang sudah terbujur kaku di tengah jalan.
Comments
Post a Comment