𝐌𝐞𝐧𝐣𝐞𝐦𝐩𝐮𝐭 𝐏𝐫𝐚𝐡𝐚𝐫𝐚
Getar gawai di nakas mebuatku terjaga. Alunan merdu adzan begitu indah sampai ke telinga.
Bergegas kusibak selimut biru muda motif awan kesampingku.
Kulirik lelaki paruh baya yang masih lelap dalam mimpinya.
Kuusap keningnya dan mengecup lembut pipinya sambil berbisik ringan.
"Mas, bangun yuk, udah adzan"
"Hayuk Mas kita jamaah biar dapat surga" kuulang bisikanku sambil menepuk tangannya ringan.
Senyum berbalut kantuk terukir di bibirnya, ah betapa aku selalu cinta melihat senyumnya.
...
Mendung pekat menyambut pagi.
Suamiku sudah berangkat lima belas menit yang lalu. Tepat jam 06.30.
Kulangkahkan kaki menuju teras.
Bunga aglonema merah pemberian Kak Lisa tampak menonjol diantara tanaman lainnya. Terasku basah sisa hujan tadi malam.
Pot gerabah yang berjejer rapi di tepi timur tampak segar. Pohon Jambu merah tampak menggoda dengan buahnya yang menggerombol diantara dedaunan.
Ah betapa aku suka berdiri di teras putihku sambil memandangi tanaman disini.
Aku menghentikan langkah tepat ketika sebuah mobil melambatkan lajunya di depan pagar.
Aku tak perlu menebak karena pintu jendela seketika terbuka.
Senyum ramah membuka sapa.
"Tanamannya cantik"
"Mendungnya awet" sapa ringannya menghentikan langkahku.
Aku masih diam menunggu maksudnya ketika suara klakson membuatku sedikit berjingkat.
"Tolong balas ya chatku, kutunggu" ucapnya sambil menatap tajam ke arahku, mengabaikan teriakan di belakangnya.
Aku mengalihkan pandanganku ke arah motor di belakang mobilnya sambil melambaikan tangan menyapa Bu Dira yang kelihatan kesal tak bisa lewat karena terhalang.
Sambil melambaikan tangan kutatap wajah Mas Dino
Tapi tatapan Mas Dino makin tajam tak menghiraukan tanganku yg menyuruhnya bergegas.
"Iya Mas" jawabku pelan disambut tatapan leganya.
Draft tulisanku sudah lengkap.
Tapi aku masih ragu mengirimkanya ke editorku.
Ada hal tak biasa yang kurasakan ketika kubaca tulisanku untuk kesekian kalinya.
Aneh aku merasa senyap sekaligus marah.
Kututup notebook biru hadiah ulang tahun dari teman kantorku dulu.
Tiba tiba aku rindu suasana itu. Ceria mengurai cerita, yang seolah tak ada habisnya.
Gemericik air di teras depan membuatku terjaga dari lamunan. Ah akhirnya hujan juga.
Musim kenangan sudah tiba.
Derainya akan mengundang banyak cerita.
Novel The Envy favoritku masih digengaman.
Kuletakkan novel itu ketika getar gawai memanggilku.
"kau sudah berjanji kan, aku menunggu"
kubaca pesan itu dalam hati.
"ayolah jangan buat aku merasa bersalah"
"boleh kita bertemu?" beruntun pesannya datang.
"Iya" aku mengetik singkat.
"Iya untuk apa?" balasnya
"Iya sudah kubaca"kubalas cepat pesannya sambil menarik napas panjang.
Aku masih asyik membaca pesan yg dikirimkannya kemarin ketika pesan barunya masuk.
"Apa yang salah dengan suka?. Aku juga merasakan hal yang sama."
"Kau membuatku gila, pengakuanmu membuatku gila. Aku tak mampu menghapus bayanganmu sejak kemarin."
"Jangan kau pendam...ucapkan lagi padaku, "kumohon"
"Katakan kau suka"
Membaca pesannya membuatku menggigil.
Langkah kaki di teras depan mengusikku.
Dengan hape di tangan kubuka pintu depan.
Senyum manja menyambutku.
"Nih Mas tadi malam dari Semarang, ada oleh oleh buat Dik Bre"
Kak Rena menyodorkan bingkisan besar ke tanganku.
"Kok banyak banget Kak" aku mengambil bingkisan dengan tangan kananku.
"Iya Kata Mas ini kesukaan Dik Bre dan Mas Alfino" ucap Kak Rena sambil mengucap salam.
"Tuh gawainya getar terus dari tadi, maaf ya kalo Kakak mengganggu" Kak Rena menggoda.
Mas Alfino menatap lumpia yang merekah di atas piring.
"Baik banget Rena dan Dino nganterin makanan favorit adek segini banyaknya" Mas Alfino tersenyum sambil menepuk bahuku lembut.
"Mas ke masjid dulu ya,"
Malam ini Mas Alfino bilang ada pengajian di rumah Kak Lisa, lepas isya.
Kuambil gawaiku dan kubuka pesan yang tadi siang kusembunyikan.
"Mas Dino makasih lumpianya" ketikku cepat.
"Bilang dulu, please"
Ting, dalam hitungan detik pesanku dibalas.
"Aku suka Mas Dino, maaf" kubalas tanpa ragu pesannya.
"Makasih Bre..makasih sayang"
"Makasih sudah berterus terang"
pesannya muncul tanpa jeda.
"Mas, ini dosa kan?"
"Iya sayang, tapi kita bisa apa" balasnya.
Selamat datang prahara ucapku lirih menikmati degup jantungku yang yang tak mampu kuatur.
"Mas, ini dosa kan?"
"Iya sayang, tapi kita bisa apa" balasnya.
Selamat datang prahara ucapku lirih menikmati degup jantungku yang yang tak mampu kuatur.
Comments
Post a Comment